Limbah Kayu Diduga Milik PT Arara Abadi Berserakan di Sungai Siak, Nelayan Mengeluh Alat Tangkap Rusak

 

Mediacakra89.com (SIAK)
– Para nelayan di sepanjang Sungai Siak mengeluhkan tumpahan limbah kayu akasia yang diduga milik perusahaan PT Arara Abadi. Limbah kayu tersebut dilaporkan berserakan di aliran Sungai Siak, tepatnya di wilayah Kampung Dosan dan Sungai Limau, sejak Kamis (21/5/2026).

Bacaan Lainnya

Akibat kejadian itu, aktivitas para nelayan terganggu. Mereka mengaku kesulitan mencari ikan karena kayu-kayu akasia yang hanyut dan menumpuk di sepanjang sungai menghalangi jalur perahu serta merusak alat tangkap ikan milik warga.

Masyarakat yang menggantungkan hidup sebagai nelayan kini merasa terpukul secara ekonomi.

Mereka khawatir tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan keluarga akibat tidak dapat melaut seperti biasanya.

Rahmad, perwakilan nelayan Sungai Siak, menyampaikan kekesalannya terhadap pihak perusahaan yang dinilai belum serius menangani persoalan tersebut. Ia mengatakan, sejak kejadian pada Kamis lalu hingga Senin, limbah kayu masih terlihat berserakan di sungai.

“Dari Kamis sampai hari ini kayu masih berserakan di sungai, sehingga kami tidak bisa melaut mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Rahmad.

Ia juga mengaku banyak alat tangkap ikan milik nelayan rusak akibat dihantam tual-tual kayu akasia yang hanyut di Sungai Siak.

“Kayu milik Arara dan tenggelam tongkang hari Kamis pagi. Kami menemukan kayu berserakan sepanjang Sungai Siak. Akibat dari ini banyak alat tangkap kami nelayan Desa Dosan dan Sungai Limau yang rusak,” ungkapnya.

Menurut Rahmad, kondisi tersebut membuat para nelayan tidak bisa lagi beraktivitas normal karena aliran sungai dipenuhi limbah kayu. Ia juga menyayangkan pihak perusahaan yang disebut sulit dihubungi dan belum memberikan tindak lanjut nyata.

“Pihak Arara dihubungi tidak ada respons lagi, padahal dari awal mereka sendiri berjanji akan mendata kami para nelayan akibat kerugian ini,” tambahnya.

Para nelayan Sungai Siak pun menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pihak perusahaan, di antaranya meminta pertanggungjawaban atas kerusakan alat tangkap ikan akibat limbah kayu akasia tersebut.

Selain itu, mereka meminta agar kayu-kayu yang berserakan segera dikumpulkan kembali karena dikhawatirkan dapat mencemari sungai akibat proses pembusukan kayu yang menumpuk.

“Efeknya sangat nyata. Pencemaran air akibat pembusukan kayu yang menumpuk bisa merusak ekosistem dan biota sungai. Dampak pertama yang merasakan tentu kami para nelayan,” tegas Rahmad.

Para nelayan juga meminta pihak PT Arara Abadi turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi yang mereka alami serta segera mengambil langkah penyelesaian atas persoalan tersebut.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Humas PT Arara Abadi M. Nasir, Senin (25/5/2026), mengatakan pihak perusahaan telah mulai melakukan penanganan terhadap kayu yang berserakan di Sungai Siak dengan mengerahkan armada ponton dan alat berat.

“Tim Marine sudah datang ke lokasi dan kayu yang berserakan sudah mulai dikutip pakai ponton dan alat berat mulai minggu kemarin,” tulis Nasir.

Terkait kerugian yang dialami para nelayan, Nasir juga menyebut pihak perusahaan berencana melakukan pendataan terhadap nelayan yang terdampak, khususnya kerusakan alat tangkap ikan di lapangan.

“Nelayan yang terdampak jaringnya di lapangan rencana siang nanti sama-sama kita data berapa banyak jaring yang kena dan belat mereka oleh tim,” tutup Nasir.*

Pos terkait