Mediacakra89.com (ACEH UTARA)
– Hilang nyawa serta lenyapnya harta benda yang diakibatkan banjir atau longsor sudah sering terjadi di kabupaten Aceh Utara dan beberapa kabupaten lain di, Provinsi Aceh. Fenomina ini terus menghatui warga setiap terjadi musim hujan. Penyebab utama disebutkan eksplorasi sumber daya alam yang tidak terkontrol dan penggundulan hutan, biang terjadi kerusakan alam.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh, Ahmad Shalihin dalam keterangannya kepada Awak Media saat meninjau kawasan banjir tersebut. Selasa, (18/10) menyebutkan, alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan penyebab utama banjir. “Makanya dalam persoalan penegakan hukum, aktivitas-aktivitas illegal di dalam hutan harus bisa dituntaskan semuanya,” ujar Ahmad Shalihin.
Dia menyoroti, banjir di Aceh Utara, tidak murni disebabkan karena kerusakan hutan yang terjadi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, tapi juga ikut andil kerusakan hutan di wilayah Aceh Utara sendiri. Akibatnya, seluruh daerah penyangga rusak dan belum ada solusi hingga hari ini.
“Maka semua ijin-ijin perkebunan di wilayah Aceh Utara harus di evaluasi kembali, terutama bagi kawasan-kawasan yang menyalahi aturan Hak Guna Usaha (HGU), jangan sampai nantinya merubah fungsi hutan,” sebutnya.
Sisi lain, mitigasi bencana juga lemah di Kabupaten Aceh Utara. Buktinya, banjir tahun ini satu orang meninggal dunia. Tahun lalu tercatat tiga orang meninggal dunia. “Rakyat bukan hanya kehilangan nyawa, tapi juga kehilangan sumber penghasilan dan kerugian harta benda lainnya. Ini harus menjadi perhatian serius,” papar Ahmad Shalihin.
Pantauan Media ini, banjir di Aceh Utara tahun ini terlihat tambah meluas mencapai 13 kecamatan dibanding tahun lalu yang hanya 10 kecamatan. banjir meluas hingga 13 kecamatan yaitu Kecamatan Pirak Timu, Lhoksukon, Tanah Luas, Samudera, Cot Girek, Matangkuli, Muara Batu, Muara Batu, Geureudong Pase, Langkahan, Dewantara, Nibong, Sawang, dan Paya Bakong, yang keseluruhannya masuk wilayah Kabupaten Aceh Utara.
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Aceh Utara saat ini menyebabkan sejumlah fasilitas publik direndam banjir setinggi 1 hingga 2 meter lebih.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Utara, Mulyadi menyebutkan, penyebab banjir karena hujan deras di Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bener Meriah mengakibatkan tiga sungai yaitu, Krueng Keuruto, Krueng Peuto dan Krueng Pirak, meluap, sehingga banjirpun tak dapat terelakkan.
“Volume air mulai melewati badan jalan di kawasan Lhoksukon, Matangkuli dan Pirak Timu. Kami menghmbau pengendara kenderaan waspada,” katanya. Selain itu, hampir seluruh kantor pemerintah di lokasi banjir juga terendam. Praktis layanan darurat terpaksa dilakukan. “Misalnya digelar tenda di Puskesmas untuk layanan medis,” katanya. Hingga hari ini, tim BPBD Aceh Utara terus mengevakuasi pengungsi dari lokasi banjir. “Kami masih mendata jumlah pengungsi. Begitu juga bantuan dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta yang terus mengalir,” pungkasnya.
(M. Hrp, SH/Ucr)







