Media Field Trip PT Imbang Tata Alam Bersama Wartawan Sungai Apit di Batam, “Menambah Wawasan dan Mengetahui Situs Bersejarah”

Mediacakra89.com (SIAK)
– Media Field Trip adalah suatu rangkaian kegiatan wisata edukasi awak media berintegrasi langsung dengan objek nyata di lapangan. Batam merupakan sasaran kunjungan yang memiliki histori sejarah panjang. Pernah menjadi medan perjuangan pahlawan Laksamana Hang Nadim melawan penjajah, hingga pertengahan abad ke-18 menjadi bagian Kesultanan Johor.

Sebagai bentuk hubungan emosional yang selama ini terjalin, PT Imbang Tata Alam berkomitmen mendukung wartawan Sungai Apit gagasan program kegiatan kemitraan berupa Media Field Trip kunjungan ke Batam yang sudah lama di rencanakan, alhamdulillah baru dapat terlaksana pada tanggal 20 Oktober hingga 24 Oktober 2026.

Bacaan Lainnya

Melalui Media Relation Officer EMP, Hans Hardi dan Kordinator CSR PT Imbang Tata Alam di Kurau Kecamatan Merbau, Arif Hidayatullah dan rombongan Media Field Trip akan melakukan kunjungan silaturahmi di Kantor Berita ANTARA kepri dan Kantor PWI Batam, serta tempat situs bersejarah Kampung pengungsi Vietnam di Pulau Galang.

Kunjungan awal di Kantor Berita ANTARA Kepri pada tanggal 21 Oktober 2026. Kedatangan rombongan Media Field Trip Sungai Apit di sambut langsung oleh Kepala Biro Yunanti Jannatun Naim bersama Staf. Dalam diskusi tersebut Yunanti menjelaskan Kantor Berita ANTARA berdiri pada tanggal 13 Desember 1937 karena ketidakpuasan Media Kolonial Belanda ANETA yang tidak menyuarakan aspirasi rakyat. Didirikan sebelum Indonesia merdeka oleh pemuda nasionalis yaitu Adam Malik, Soemannag, A.M. Sipahoetar, dan Pandoe Kartawigoena. Sebelum Indonesia merdeka. ujarnya.

Dengan peran jurnalisnya pada tahun 1962 ANTARA menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA (LKBN). Dan melalui Peraturan Pemerintah No.40 Tahun 2007, di ubah menjadi Badan Usaha Milik Negara berbentuk Perusahaan umum (Perum LKBN Antara). Dalam melakukan konfirmasi peristiwa hukum kepada sumber, wartawan memiliki aturan yang ketat, mengedepankan prinsip konfirmasi dan verifikasi berulang-ulang untuk mendapatkan akurasi keberimbangan dan praduga tak bersalah. “Biar Lambat Asal Akurat”, ungkap Yunanti kepada rombongan Media Field Trip.

Suasana kebahagian kembali di rasakan rombongan, ketika Ketua PWI Batam Muhammad Khafi Anshary dan pengurusnya menyambut Media Field Trip di ruangan Kantornya. Menariknya nuansa keakraban yang terjalin hingga diskusi bersama. Melalui Kordinator CSR PT ITA Arif Hidayatullah menjelaskan mulai dari program pelestarian mangrove, menjaga ekosistim biota mangrove serta mengurangi dampak abrasi dan erosi pesisir.

Dalam menjalankan program CSR nya, PT Imbang Tata Alam selalu mengarah kepada pembangunan infrastruktur jalan, air bersih, pendidikan, dan lingkungan. Lebih lanjut di sampaikan Arif bahwa, kelestarian mangrove menjadi salah satu ikon unggulannya yang merupakan binaan kawasan wisata mangrove di wilayah kerjanya

“Namanya Ekowisata Mangrove Sungai Bersejarah Kampung Kayu Ara Permai, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak”, ujar Arif mengenalkan wisata mangrove kepada pengurus PWI Batam di Kantornya.

Kawasan mangrove Sungai Bersejarah ini di kelola secara swadaya oleh masyarakat melalui Kelompok Konservasi Laskar Mandiri, sekaligus menjadi pusat pembelajaran Sekolah Alam Bakau dari Pengenalan Ekosistem Mangrove, Pembibitan hingga Penanaman.

“Mengedukasi agar generasi muda peduli terhadap lingkungan pesisir serta budaya lokal. Mangrove Sungai Bersejarah ini sudah menjadi pusat mahasiswa dan akademisi dalam negeri maupun manca negara melakukan penelitian karya ilmiah maupun kegiatan lain lingkungan”, sebut Arif menutup diskusinya.

Dalam kesempatan tersebut Ketua PWI Batam Muhammad Khafi Ansyhari mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada rombongan atas kunjungannya dalam program Media Field Trip PT ITA bersama Wartawan Sungai Apit, sehingga kita dapat bertemu dan saling mengenal, saling bertukar pengalaman, dan mengenali kultur dan kondisi lingkungan daerah kita.

Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadi perhatian dalam diskusi bersama diantaranya program pelestarian lingkungan kawasan konservasi mangrove, Sekolah Alam Sabtu dan Minggu, hingga terjalinnya kemitraan antara Perusahaan bersama media di Sungai Apit. Hal ini menggambarkan kepedulian Perusahaan kepada lingkungan sudah sangat melekat, yang seharusnya di lakukan juga oleh Perusahaan yang belum tanggap dengan isu lingkunga. Ketusnya.

Hutan mangrove di batam banyak yang rusak kelestariannya. Lembaga kontrol sosial yang selalu menyoroti terkait isu kerusakan lingkungan belum mendapat respon baik pihak terkait. Sehingga melalui pemahaman di ruang diskusi, kami merasa tersentuh upaya mengembalikan pemulihan kerusakan mangrove di Batam. Apakah polanya swadaya ataupun melalui kemitraan Perusahaan. Ini juga akan kami bahas bersama pengurus dan anggota PWI lain

Mengakhiri diskusinya, Ketua PWI Batam yang akrab di panggil Bang Khafi menuturkan, semoga keakraban dan silaturahmi kita terus terjalin hingga bertemu kembali
“Dengan sudah hadirnya rekan-rekan rombongan Media Field Trip Sungai Apit ke Kantor PWI Batam, saya bersama pengurus PWI insya allah akan berkunjung juga ke wilayah wisata mangrove Sungai Apit”

Laporan : Sutikno

Pos terkait