Kurikulum Merdeka Dan Guru Penggerak Kian Bergelora, Tapi Orang Tua Masukan Anaknya ke Pesantren Atau Dayah, Ada Apa

 

Mediacakra89.com (Lhoksukon)
– Di saat pemerintah pusat, propinsi, kabupaten dan kota terus memberdayakan peserta didik dengan berbagai cara, salah satunya mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran melalui kurikulum merdeka di tambah lagi dengan kehadiran guru penggerak, tapi orang tua menaruh minat memasukan anak-anak mereka ke Dayah atau Pesantren.

Bacaan Lainnya

Berbicara pada pembukaan festival edukasi Aceh Utara Sabtu (17/12) di Lhoksukon, Direktur guru dan tenaga pendidikan menengah dan pendidikan khusus Dr.H, Yaswardi mengatakan, Kurikulum merdeka yang tengah di jalankan saat ini, bersifat esensial, optimal, lebih banyak waktu berkreasi dan berkarakter berahlak mulia sesuai pancasila.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Drs. Alhudri, MM dalam acara itu mengatakan, hal ini pondasi penting demi kelangsungan kemajuan bangsa dan siap mendukung program tersebut melalui cabang dinas dan dinas pendidikan setiap kabupaten.

Pj. Bupati Aceh Utara, Dalam sambutannya mengingatkan justru dunia pendidikan saat ini harus juga belajar dari agama Islam. Salah satu nya kejaan pendidikan Aceh benuansa Islami dan mengalami puncak kejayaannya di masa hadirnya sosok ulama Hamzah fansuri, Nuzuruddin Ar niry, dan Syeh Abdur rauf asingkili.

Menjawab pertayaan wartawan banyak nya orang tua wali murid menyekolahkan anaknya ke Pesantren dan Dayah, dengan alasan kenakalan pelajar, Yaswardi, mengatakan, justru dengan situsasi seperti sekarang ini kurikulum merdeka solusi tepat bagi orang tua. Sebab orang tua dalam hal ini diberikan kesempatan memilih pendidikan dan berkreasi bagi anaknya.

“Makanya dengan kurikulum merdeka, tadi saya sampaikan ada orang tua wali murid yang ingin memasukan anaknya ke pendidikan mulai Paud, TK, SD, SMP, SMA, SMK dan lainnya. Yang penting anak harus mendapatkan pelayanan yang optimal dari sekolah”.

Menurutnya bila ada orang tua ingin memasukan anaknya ke Dayah itu juga pilihan, yang pertenting anak tersebut harus mendapatkan layanan optimal mempersipakan masa depannya. Bagaimana mungkin anak didik tidak mendpatkan keilmuan, keterampilan yang kuat serta karakter pendidikan agama yang kuat.

Selain itu untuk menjawab kenakalan pelajar, sekolah umum dan Dayah harus saling berkolaborasi atau bermitra dalam menjalani ibadah sehari-hari baik di sekolah umum maupun di Dayah, dan lembaga tersebut dapat menggunakan kearifan lokal.

Menjawb berkurangnya peserta didik di sekolah formal mulai dari SMP hingga SMU, Azwardi, mengatakan, bagi orang tua saat ini memasukan anaknya ke dayah hal itu sudah tepat, namun di pendidikan Formal juga pendidikan agamanya juga ada muatannya.

“Sekarang pendidikan antara Dayah dan sekolah umum rata-rata memiliki nilai cukup bagus, harapan saya pendidikan edukasi ini mengajarkan karakter bagi anak anak kita, jadi melalui pendidikan agama dan pendidikan fomral itu terbentuk karakternya”.

Menurutnya, yang terpenting pendidikan umum dan agama mendidik anak-anak Pase dan menyatukan cara pandang dari keduanya bahwa pendidikan tersebut milik Aceh Utara.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdisdik) Wilayah Kota Lhokseumawe Supriariadi SPd mengatkan, orang tua saat ini cendrung memilih Dayah atau Pesanten karena ketakutan mereka akibat pengaruh lingkungan.

Menurutnya, Kurikulum Merdeka mampu menjawab pengaruh lingkungan tersebut, asalkan 3 pilar berjalan, orang tua, sekolah dan masyarakat, namun bila salah satunya tidak berjalan mustahil kurikulum tersebut dapat berjalan.

“Sekarang ini banyak anak-anak sekolah dalam penggunaan hp saja, kita lihat sering disalah gunakan, dan ini dilema bagi orang tua. Di satu sisi kita butuh tehknologi di sisi lain kita tidak bisa memamfaatkan tehknologi”.

Data dihimpun awak media beberapa dunia pendidikan formil jenjang SMP, SMU, dan SMK mengalami penurunan jumlah peserta didik. Hal itu terjadi di SMU 1 Lhoksukon, SMP Paya Bakong, SMK pelayaran Kota Lhokseumawe, SMU 3 Lhoksumawe. Kondisi berkurangnya peserta didik tersebut berlangsung beberapa tahun belakangan ini.

Selain itu, data lain di himpun awak media beberapa pelajar terlibat tawuran hingga kepada prilaku asusila berakibat diberhentikan dari sekolah. Disamping itu didapati pelajar tidak mengikuti proses belajar mengajar karena harus mencari nafkah bagi keluarganya.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Utara Jamaluddin, S.Sos, M.Pd menjelaskan, dlam Festival edukasi penddikan menjelaskan, dalam menggerakan kurikulum Merdeka, dinas Pendidikan telah menyiapkan 219 guru penggerak. Jumlah tersebut terbanyak di Aceh. Selain itu 2500 Kepala Sekolah dari Sabang hingga Maurake tengah menjalani program tersebut.

Mampukah kurikulum Merdeka bersama guru penggerak serta dibantu 3 pilar dalam memajukan pendidikan di bumi Malikussaleh berhasil mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk menyekolah anaknya di pendidikan umum. (fs)

Pos terkait