Mediacakra89.com ( Aceh Tamiang)
– Situs/sejarah peninggalan Kerajaan berupa Makam yang panjangnya +/- 9 M, yang disebut Makam Raja Pucook Suluh saat ini berusia +/- 1000 tahun, bertempat di Desa Pematang Durian Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang. Hal ini disampaikan Bahrani SE, sebagai pemerhati situs sejarah juga sebagai Ketua Mukim Kecamatan Bandar Pusaka, bersama jurnalis Mediacakra89.com dan Media global Hukum indonesia. com, datang menuju ke Lokasi pada Minggu, (25/09/22) pada pukul 14.15 wib.
Bahrani SE, menuturkan, situs sejarah ini merupakan warisan generasi masa lalu dinilai penting untuk dilestarikan sebagai salah satu kekayaan Budaya yang dimiliki masyarakat AcehTamiang karena kerajaan pertama di Aceh Tamiang dipimpin Raja Pucook Suluh.” Sebut Bahrani”.
Lanjut Bahrani, saat berada di Makam Raja Pucook Suluh dan sebelah Makam +/- jarak 7 M, tahun 2020 berdiri bangunan dari kayu 2 tingkat atas swadaya masyarakat setempat khusus untuk melaksanakan ibadah Suluk, saat ini kondisi bangunannnya sangat memprihatinkan, disana sini banyak kayu yang sudah lapuk, namun begitu tak menyurutkan masyarakat untuk tetap melaksanakan Suluk (ibadah) yang dipimpin oleh Tuan Guru Zulham yang datang langsung dari Besilam yang menurut sejarah ada berkaitan dengan kerajaan melayu Tj. Pura dan Tuan guru Besilam.”ungkapnya’
“Sambung Bahrani, menurut riwayat sejarahnya, Raja Pucook Suloh menjadi Raja pada tahun 1190 s/d
1256, setelah beliau Mangkat, pada tahun itu juga (1256) digantikan oleh Putra Mahkota yang bernama Raja Popala memerintah dari tahun1256 s/d 1278, yang saat ini makam tersebut berada di Tanjung Gelumpang Kecamatan Sekerak, setelah beliau Wafat di gantikan oleh Putra Mahkota Raja Dewangsa, Memerintah dari tahun 1278 s/d 1300, setelah beliau Mangkat digantikan Putra Mahkota Raja Po Dinok memerintah dari tahun 1300 s/d 1330 yang Makamnya berada di Kebun Tengah Desa Bukit Rata Kabupaten aceh Tamiang”,”jelasnya”
Makam ini, dahulunya masih Hutan Rimba, didalam sejarah yang ditulis oleh H. Jainudin, bahwa Raja Pucook Suloh ini, menjalankan Pemerintahan sebagai Raja Tamiang pertama tahun 1190 s/d 1256, Makam yang panjang lebih kurang 9 Meter, terletak dipinggir Sungai Siluman yang tidak jauh dari Sungai yang mengalir di Sungai besar (Sulum) sebutan masyarakat setempat.
Sebelumnya masyarakat setempat menganggap Makam tersebut Keramat. Karena Sejarahnya mereka tidak mengetahui bahwa ini Makam Raja, setelah tau kemudian masyarakat setempat memuliakan dengan cara setiap tahunnya di hari keempat Hari Raya Idul Fitri masyarakat setempat mengadakan Kenduri di makam ini untuk berdo’a bersama”, ungkap Bahrani.
Bahrani menambahkan, untuk memastikan pada abad berapa batu nisan tersebut, “Pada tahun 1998 membawa photo batu Nisan tersebut ke Dinas Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Aceh, dari hasil penelitian mereka mengatakan bahwa batu Nisan tersebut, dari Abad ke 12 antara 1100 – 1200 tahun yang silam”.
Sebutnya lagi,selaku pemerhati sejarah ia menuturkan,
berharap kepada Pemerintah Aceh/ Pemda setempat untuk memberi perhatian yang besar dengan memugar areal Makam dan juga membangun tempat Persulukan sehingga bisa menjadi kebanggaan Masyarakat Aceh Tamiang sebagai peninggalan Situs sejarah dan menjadikannya Destinasi wisata Relegius.
‘Makam yang ditemukan itu adalah bukti Otentik dan bukan cerita Legenda, yang perlu kita pelihara dan dilestarikan untuk menjadi warisan generasi penerus khususnya Putra/i Aceh Tamiang, apalagi nantinya jembatan penghubung antara Desa Rantau Bintang Dan Pematang Durian selesai pengerjaannya mobil sudah tentu bisa sampai langsung ketempat Makam Raja Pucook Suluh yang berjarak +/- 800 M.”sebutnya”.
Mudah-mudahan pemerintah memperhatikan sekaligus dapat mewujudkan apa yang menjadi harapan kami yaitu memugarnya “Harapnya.”(Hrp).








