Mediacakra89.com (Lhoksukon)
– Pengamat Imu sosial Politik Universitas Malikusaaleh Taufik Abduulah, S.sos.MA, menyesalakan sikap Badan pengelolaan Migas Aceh (BPMA) belum berpihak kepada Sumber daya manusia (SDA) daerah, dalam penerimaan tenaga kerja di sektor Migas.
Kepada awak media Kamis (02/06) mengungkapkan apa yang disebut-sebut saat ini Aceh memiliki kedaulatan mengelola minyak dan gas secara otonomi, dan BPMA menjadi fasiilitator dalam menjembatani hubungan ekspolrasinya, maka penerimaan tenaga kerja lokal menjadi suatu keharusan semestinya dijalani.
Dirinya, mempertanyakan, BPMA mengapa tidak memiliki rasa kepekaan dalam hal rekrutmen tenaga kerja lokal. Bahkan badan itu menimbulkan sebuah kesejanagan sosial pada ahkirnya memunculkan konflik baru.
“tidak ada istilah tidak siap pakai, mereka dari desa tetangga dengan perusahaam eksplorasi , kan bisa di berikan pelatihan ataupun magang beberapa bulan sebelum mereka dipekerjakan diperusahaan. Dan itu di mana-mana seperti itu. Misalnya di perusahaan Bettel sewaktu PT.ARUN diawal berdirinya, mereka dari putra daerah setempat sebelum pekerjakan dilatih beberapa bulan baru kemudian di tempatkan. ”
Menjawab peryataan belum adanya pemuda dari kecamatan Matang Kuli, Nibong, Paya bakong bekerja di-indsutri pengeboran migas bekas exxon mobil kini di kelola Pema Global Energy (PGE) hal itu bom waktu mengarah konflik sosial.
“Kalau memang Kedaulatan itu ditangan pemerintah Aceh, mengapa putra-putri terbaik lingkungan perusahaan itu tidak menempatkan mereka sebagai tenaga kerja, seharunya BPMA bertanggung jawab sebagai fasilitator dalam menjembatani hubungan ekspolrasi Migas Aceh.”
Padahal, pada acara 1 tahun memperingati ekspolarasi Migas Aceh oleh perusahaan PGE, beberapa waktu lalui, Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengatakan, Aceh Saat ini memiliki kedaulatan pengelolaan Migas langsung di tangani BPMA.
Bahkan Gubernur sempat mengelurkan, istilah dalam bahasa Aceh yang artinya,” jangan ada lagi buaya luar datang dapat rejeki, buaya dalam sungai sendiri terbodoh bodoh.”
Bukti-bukti kuat bahwa pekerja sektar pabrik belum diberdayakan, hal itu justru diungkapkan tokoh masyarakat Aceh Utara M.Yusuf.
Tokoh masyarkat itu meresa terpukul dengan pengaduan masyarakat tentang nasib pekerjaan mereka. Puluhan desa disekitar lingkungan pabrik, dengan beberapa bekas pekerja di perusahaan exxon mobil, dan pemuda pemudi berprestasi sejak berdirinya PGE, belum sekalipun memberikan peluang kerja bagi mereka.
Rasa kekesalan yang sama itu ditujukan ke BPMA dan PGE dari M.Yusuf, begitu mendalam. Dirinya membandingkan banyak perusahaan di Aceh Utara berdiri, Misalnya PT. AAF, PT. Kertas Kraft Aceh (KKA), PT. Aru, Mobil Oil, dan PT.PIM, semua perusahaan itu mempekerjakan warga sekitar.
M,Yusuf berharap, kalangan kampus Unimal dan mahasiswa bersama warga masyarakat di dilingkungan pabrik dapat turun ke jalan melakukan tuntan kepada pihak manajemen BPMA dan PGE, agar persoalan tersebut dapat ditangani. (fs)








